Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan (QS.Al-Alaq:1)

Minggu, 28 Desember 2014

Foto lagi pas khitbah

Khitbah

Alhamdulillah, Sabtu, 27 Desember 2014, Ferdi resmi mengkhitbah Annisa Yuniar Sukmara. Semoga lancar seterusnya.aamiinn ^_^

Sabtu, 13 Desember 2014

Ya Allah,terima kasih karena selalu menerima aku apa adanya

Makasih Ya Allah...sudah menerima hamba apa adanya...benar2 apa adanya...benar2 apa adanya...apa adanya...dan selalu apa adanya hamba...

Engkau gak pernah ninggalin hamba sehancur apapun hamba...

Makasih Ya Allah...

Kini hamba,niatkan karena Mu Ya Allah...Ya Allah,hamba mencintai Mu...Aku mengharapkanMu...

Meski aku byk kekurangan,plis jangan tinggalkan hamba Ya Allah...

Hamba hancur tanpaMu Ya Allah...
:')
Ya Allah,pegangi hamba...pegangi hamba :') jgn tinggalkan hamba :')

Jumat, 12 Desember 2014

Sederhana

Di masa2 awal,hampir semua pasangan itu sangat hangat, penuh kasih sayang,dsb....namun setelah masuk ke fase2 kehidupan berikutnya, saat berganti episode, saat kondisi berubah, tak semua bisa bertahan dalam kesetiaan

Jgn lihat saat awal,krn semuanya hampir sama,tapi pikirkanlah saat kondisi tidak sesuai harapan,apakah dia akan tetap setia atau bagaimana

Do'aku sederhana...agar dianugerahi pasangan yang setia dan tetap setia dalam suka maupun duka...saat berlimpah maupun sempit...

Yang setia...

Dalam menjalani dan mengarungi dunia dengan segala kondisinya...hingga terus dalam kebersamaan di akhirat nanti...

Yang setia...

Itu saja...sederhana kan?

#sebuah renungan utk kita semua ^_^

Rabu, 10 Desember 2014

Selasa, 09 Desember 2014

Love choco

Love choco so much...ampe nyobain ini...late posting :p

Rabu, 03 Desember 2014

Random

Lunch time...
Late post...asal jgn late shalat aja wkwkwkw ><

Minggu, 30 November 2014

Foto bersama buat di majalah bsm

Tes iseng

Ssst jawab dlm hati ya
Tes kelemotan otak : 

1. Jawab spontan , jangan kelamaan mikir
2. baca satu demi satu.
3. Konsentrasi ..
4. Melatih ketegasan mu dalam mengambil keputusan..

Permainan konsentrasi warna ...
Mulaiii.

1. kertas HVS warnanya apa ?

2. awan warnanya apa ?

3. tissu warnanya apa ?

4. sapi minum apa ?

Yang ngejawab susu konsentrasi anda terganggu,
karena sapi minum air

1. rambut anda warna apa?

2. Alis warnanya apa ??

3. aspal warnanya apa ???

4. kelelawar tidurnya kapan?

Yang menjawab malam, artinya konsentrasinya tergganggu.
karena kelelawar tidur siang hari.

1. warna dari cendol apa?

2. daun kelapa warnanya apa?

3. warna umum rumput?
Bu
4. Jerapah makan apa?

Yang jawab rumput , itu salah,
karena Jerapah makan daun.

Sumber: forum sebelah

Selasa, 25 November 2014

Random

Niatkan saja krn Allah...serahkan pada Allah...biar Allah yg menuntun...Allah Maha Tahu Masa Depan seperti apa...yakinlah Allah yang akan menjagamu...melindungimu...

Jumat, 21 November 2014

Kamis, 20 November 2014

Random

Aku merasa...Allah sedang berbicara kepadaku ttg keikhlasan,kepasrahan,ketawakallan...
Yg mgkn telah berkurang sejak sekian lama mgkn...Allah mengingatkan ku...
Melalui fitnah teman kantor...
Melalui pencarian jodoh...

Jika memang untukmu...tak akan tertukar...

Luruslah dlm menjalani hidup...biar Allah yg membimbingmu...

Rabu, 19 November 2014

Random

Merasa berada di titik nadir kehidupan...
hal ini sudah pernah aku rasakan bbrp kali...
Yang ada saat ini hanyalah kepasrahan pd KehendakNya...ikhlaskan semuanya...
Ridho akan takdirNya...

Allah lah yang selama ini mengangkatmu hingga ke posisi ini...dan merupakan hakNya lah utk memposisikanmu dimanapun...
Sadarlah,selama ini,kamu gak punya daya dan upaya kecuali atas bantuan Allah
Sadar diri...

Kamis, 13 November 2014

Random

Saat rindu,ada yang menikam rasa rindu tersebut agar tidak berkembang sebelum waktunya

Ada juga yang menyalurkannya dengan doa yang dipanjatkan

Random

Tenanglah...tulang rusukmu tidak akan tertukar...

Tenanglah...

Tentang kebahagiaan


Self thinking..
Orang2 seringkali melihat orang lain yang "terlihat"
bahagia.. Padahal blum tentu smua org yg kita
kira sudah bahagia benar2 bahagia dari dalam
hatinya...
Mgkn kita bs anggap semua yang sudah menikah..
Mempunyai anak.. Lulus kuliah.. Punya pacar..
Kaya.. Punya kendaraan baru.. Dsb dsb.. Itu
bahagia
Tapi suatu saat kepikiran..
Ada kalanya org yg sudah menikah tidak bahagia
maka dia memutuskan utk hdup sendiri lalu
bahagia
Ada org yg kesepian lalu bahagia karena menikah
Ada org yg memutuskan tdk mmpunyai anak dgn
pasangannya dan membuat mrk bahagia
Ada org yg memutuskan hidup sederhana tanpa
punya kendaraan pribadi krn senang dgn
kendaraan umum untuk lebih bersosialisasi dan dia
bahagia
Ada yang memang hidup sederhana namun mereka
merasa ckup dan selalu bersyukur dan mrk
bahagia
Ada org yang pacaran tdk bahagia lalu
memutuskan pasangannya dan memilih sndri dlu
dlm wkt trtntu lalu ia bahagia
Ada org yg lebih memilih memelihara hewan
daripada mmpunyai anak dan mrk bahagia
Ada org yg bekerja keras supaya dapat uang
banyak lalu bisa membeli segalanya ia bahagia
Ada org yg bekerja keras tanpa melihat uang yg
dia dapat namun dia cinta pekerjaannya dia
bahagia juga
Dan sebagainya...
Jadi kebahagiaan sprtinya tdk selalu bisa dinilai
oleh org lain..bukan org lain yg menentukan..dan
tdk brgantung juga pada org lain dan materi..
Namun diri kita sndri yg akan merasa dan harus
diri kita sndri yg bs menentukan..sdh bahagia kah
saya.. Apa yg membuat diri kita bahagia?
Tentunya bukan bahagia diatas penderitaan org
lain dan bahagia karena menyakiti org lain juga~
Just my opinion~
Sumber: Annisa Yuniar Sukmara

Rabu, 12 November 2014

Random

Jika kamu merasa keringatmu takdihargai...
Jika kamu merasa usahamu akan sia-sia...

Jangan galau,perbaikilah lagi niat dari sekarang (dan perbaiki terus),niatkan karena Allah...

Jika dunia takmenghargaimu,setidaknya Allah akan menghargaimu,in syaa Allah

Random

Jika kamu merasa keringatmu takdihargai...
Jika kamu merasa usahamu akan sia-sia...

Jangan galau,perbaikilah lagi niat dari sekarang (dan perbaiki terus),niatkan karena Allah...

Jika dunia takmenghargaimu,setidaknya Allah akan menghargaimu,in syaa Allah

Random

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yg telah lebih dulu sukses dan mapan daripada kamu...padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yang bekerja di tempat yang nyaman dan dekat dengan keluarga...daripada kamu...padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yang telah menikah dan atau dikaruniai anak...daripada kamu....padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Pejamkan mata...dan katakan "segini juga udah uyuhan"
Dan bayangkan bagaimana ajaibnya kamu bisa sampai di kondisi saat ini...bila menyadari situasimu sejak dulu

Dan katakanlah...
"Alhamdulillah.."
---
Memang gak mudah,tapi bisa dilatih...memang belum tentu berhasil,tapi setidaknya berprogres...

Random

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yg telah lebih dulu sukses dan mapan daripada kamu...padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yang bekerja di tempat yang nyaman dan dekat dengan keluarga...daripada kamu...padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Saat kamu merasa iri kepada siapapun yang telah menikah dan atau dikaruniai anak...daripada kamu....padahal dulu dikelas dia dibawahmu

Pejamkan mata...dan katakan "segini juga udah uyuhan"
Dan bayangkan bagaimana ajaibnya kamu bisa sampai di kondisi saat ini...bila menyadari situasimu sejak dulu

Dan katakanlah...
"Alhamdulillah.."
---
Memang gak mudah,tapi bisa dilatih...memang belum tentu berhasil,tapi setidaknya berprogres...

Random

Entah sajak entah apa namanya ini hehe

Diam...itulah aku dilihat...seringkali pendiam...

Kaku....itulah aku dilihat...seringkali kaku..

Bosan...mungkin itulah aku dilihat...mungkin seringkali membosankan...

Bosan...apakah aku bosan melihatmu?....tidak,aku tidak pernah bosan

Diam...apakah kamu pendiam?...tidak,aku tidak masalah

Kaku...apakah kamu kaku?...tidak,aku tidak masalah

Setia? Itu harga mati...

Random


Terkadang,utk menyelesaikan suatu masalah,yg kita butuhkan bukanlah solusi...tapi Allah...nanti Allah dengan KuasaNya akan menolong kita,apakah itu dgn mengubah situasi sehingga tdk memerlukan solusi lg atau dgn cara lainnya...sehingga masalah pun selesai dgn sendirinya
(Sumber: buku sedekah membabi buta)

Selasa, 11 November 2014

Random

Random

Random

Rasulullah bersabda :"Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati".

(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

╰✽╮ ARTI KEIKHLASAN ╰✽╮

Bismillahirrahmanirrahim

✽ Ikhlas itu kunci utama diterimanya ibadah ibadah kita..

✽ Ikhlas itu , ketika ada kritikan, nasehat bahkan fitnah sekalipun tidak menjadikan semangatmu punah..

✽ Ikhlas itu ketika usaha dan harapan tidak sebanding dengan hasil, tapi tidak menjadikanmu tenggelam dalam kesedihan..

✽ Ikhlas itu ketika niat baik disambut dengan berbagai prasangka, tapi kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka..

✽ Ikhlas itu, ketika sepi ataupun ramai, sedikit ataupun banyak, menang ataupun kalah,kau tetap berjalan lurus dan terus melangkah..

✽ Ikhlas itu ketika engkau lebih mempertanyakan apa amalanmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu..

✽ Ikhlas itu ketika engkau berada diatas tidak menjadikan keangkuhan dan ketika kamu dibawah tidak menjadikan kemalasan dalam bekerja..

✽ Ikhlas itu ketika kebodohan orang lain tidak engkau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, dan ketika kedzoliman orang lain tidak engkau balas dengan kedzolimanmu kepadanya..

✽ Ikhlas itu ketika engkau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah dan menghadapi kata kata kasar dengan jiwa besar..

✽ Ikhlas itu mudah diucapkan, tapi sulit diterapkan namun tidak mustahil untuk diusahakan..

Sumber: broadcast bbm

Random

Rezeki itu ditangan Allah

Random

Hidup itu sederhana...jalani aja...
Serahin sama Allah...
Allah Maha Baik kok...

Random

Tulang rusuk gak akan pernah ketuker...
Hanya mengenai waktu aja...
Allah Maha Mengetahui :)

Senin, 10 November 2014

Hati

Aku tahu sumber kegalauan hati ini...

Yaitu tidak menomorsatukanMu di hati ini...

Ampuni hamba Ya Allah

In sya Allah,akan hamba perbaiki

Tetap tuntun hamba Ya Allah...hamba khawatir salah/lupa lagi...hamba hanya manusia biasa Ya Allah...

Ampun Ya Allah

Kamis, 30 Oktober 2014

Mainkan saja peranmu...

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ijazah S1 sudah di tangan,teman - temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi mahluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan . mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan ? Memiliki anak - anak penuh cinta pun adalah rezeki - Nya.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati , sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu , suatu hari percayalah bahwa Allah membersamai kalian kembali .

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi tulang punggung. Mainkan saja peranmu, bukankah semata - mata mencari ridha Allah ? Lelah yang lillah , berujung maghfirah.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu , bukankah Allah yang lebih tau mana yang terbaik untukmu ? tetap berjalan bersama ridha Nya dan ridha Nya, untuk bahagia buah cinta .

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugrah kehamilan, sedangkan engkau kini masih menanti titipan tersebut . Mainkan saja peranmu dengan sebaik - baiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersama Nya.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika hari - hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata - mata murni karena ketaatan pada Nya hingga laksana zulaikha yang sabar menanti yusuf tambatan hati, atau bagi Adam yang menanti Hawa di sisi.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanat ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati , dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah ibrahim , melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering . Kemudian , rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah dalam catatan takdir manusia.

> Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

>Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Ya , taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka , dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

>Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan ?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka. Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

>Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada Nya dan karena Nya

Sumber: forum bsm selindo

Sabtu, 30 Agustus 2014

Cinta Dari Laki-Laki Biasa

MENJELANG hari H, Nania masih sukar mengungkapkan alasan kenapa dia mahu menikah dengan lelaki itu. Setelah melihat ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.
Mereka ternyata sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. 
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. 
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
“Kamu pasti bercanda!”. Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! 
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?” 
Nania terkesima “Kenapa?”
“Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. 
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!”
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan. 
“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.Parah. “Tapi kenapa?” Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!” 
Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. 
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. 
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Disampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah. 
***
Setahun pernikahan. 
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. 
“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. 
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.”Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!” 
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”.Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. 
“Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!” ”Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? 
“Rafli juga pintar!” “Tidak sepintarmu, Nania.” 
“Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.”
“Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.” 
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. 
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. 
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.” 
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik. 
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. 
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! 
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. 
Cantik ya? dan kaya!.Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. 
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. 
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”.Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. 
“Baru pembukaan satu.”.”Belum ada perubahan, Bu.”
“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.”Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.” 
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. “Masih pembukaan dua, Pak!”
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Bang?”.Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. “Dokter?” .”Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.” 
Mungkin?.Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?. Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. 
Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. 
“Pendarahan hebat.”.Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. 
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. 
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. 
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. 
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.
Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang. 
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. 
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. 
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. 
“Nania, bangun, Cinta?”
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, “Nania, bangun, Cinta?”
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. 
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. 
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. 
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. 
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. 
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
“Baik banget suaminya!” 
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!” 
“Nania beruntung!” 
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.” 
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!” 
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. 
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. 
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

#dapet dari forum sebelah :)

Kebaikan Di TanganMu Yang Maha Tahu


Kemarin, lelaki kekar itu memukul seseorang sekali hantam. Dan korbannya mati.
Semalaman dia gelisah, celingak-celinguk mengkhawatirkan dirinya. Si korban yang tewas adalah orang Qibthi, dari bangsa sang Fir’aun penguasa Mesir. Adapun dia dan teman-temannya dari keturunan Ya’qub, ‘Alaihissalam, suku pendatang yang diperbudak. Penguasa kejam itu bisa berbuat hal tak terbayangkan pada sahaya-sahaya yang melanggar aturan.
Lelaki dalam cerita di Surah Al Qashash itu, Musa namanya.
Dan pagi ini, kawan yang tempo hari dibelanya hingga dia tak sengaja menghilangkan nyawa kembali meminta bantuannya. Lagi-lagi teman sekampung yang memang pembuat onar itu bersengketa dengan seorang penduduk Lembah Nil. “Sungguh kamu ini benar-benar pencari gara-gara yang sesat perbuatannya!”, hardik Musa.
Tapi Musa sukar bersikap lain. Dicekaunya leher pria Qibthi itu, dan kepalan tangannya siap meninju. “Wahai Musa”, kata orang itu dengan takut-takut, “Apakah kau bermaksud membunuhku seperti pembunuhan yang kau lakukan kemarin?” Musa terhenyak. Rasa bersalah menyergapnya, keraguan melumuri hatinya. Cengkeramannyapun mengendur dan lepas. Melihat itu si calon korban tumbuh nyalinya. “Kau ini memang hanya bermaksud menjadi orang yang sewenang-wenang di negeri ini!”, semburnya.
“Hai Musa”, tetiba muncul seorang lelaki yang tergopoh dari ujung kota, “Para pembesar negeri di sisi Fir’aun sedang berunding untuk membunuhmu. Keluarlah segera!” Musa bimbang. “Pergilah cepat!”, tegas orang itu, “Sungguh aku ini tulus memberimu saran!”
Tanpa tahu jalan dan tanpa ada kawan, Musa bergegas lari. Dengan penuh was-was dan galau dia ayunkan kaki. Batinnya menggumamkan harap, “Semoga Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”. Langkahnya lebar-lebar dan tak berjeda, pandangnya lurus ke depan tanpa menoleh. Dan setelah menempuh jarak yang jauh; memburu nafas hingga menderu, menguras tenaga hingga lemas, memerah keringat hingga lemah; inilah dia kini, sampai di sebuah mata air.
Negeri itu, nantinya kita tahu, bernama Madyan. Musa melihat orang berrebut berdesak-desak memberi minum ternak-ternak. Adapun di salah satu sudut yang jauh, dua gadis memegang kekang kambing-kambingnya yang meronta, menahan mereka agar tak mendekat ke mata air meski binatang-binatang itu teramat kehausan tampaknya.
Musa nantinya akan disifati sebagai lelaki perkasa oleh salah seorang gadis itu. Bukan tersebab dia menceritakan kisahnya yang membunuh dengan sekali pukul, melainkan karena dalam lapar hausnya, lelah payahnya, takut cemasnya, serta asing kikuknya; Musa sanggup menawarkan bantuan. Orang yang masih mau dan mampu menolong di saat dirinya sendiri memerlukan pertolongan adalah pria yang kuat.
Musa melakukannya.
Musa menggiring domba-domba itu ke mata air. Ketika dilihatnya ada batu menyempitkan permukaan situ, dia sadar inilah salah satu sebab orang-orang harus berdesak-desakan. Maka dengan sisa tenaga, diangkatnya batu itu, disingkarkannya hingga sumur itu lapang tepiannya. Lagi-lagi Musa membuktikan kekuatannya. Bahwa pria perkasa tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran dari manusia.
Tanpa bicara lagi dan tak menunggu ungkapan terimakasih, Musa berlalu seusai menuntaskan tugasnya. Dia menggeloso di bawah sebuah pohon yang kecil-kecil daunnya. Rasa lelah melinukan tulangnya dan rasa lapar mencekik lambungnya. Kemudian dia berdoa, “Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi Rizqi, Pengatur Urusan, dan Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan amat memerlukan.”
***
 Karena desakan hajat yang memenuhi jiwa; sebab keinginan-keinginan yang menghantui angan; kita lalu menghadap penuh harap pada Allah dengan doa-doa. Sesungguhnya meminta apapun, selama ianya kebaikan, tak terlarang di sisi Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahkan kita dianjurkan banyak meminta. Sebab yang tak pernah memohon apapun pada Allah, justru jatuh pada kesombongan.
“Kita dianjurkan untuk meminta kepada Allah”, demikian Dr. ‘Umar Al Muqbil menggarisbawahi tadabbur atas doa Musa setelah menolong dua gadis Madyan itu, “Baik hal kecil maupun hal besar”. Dalam kisah ini, sesungguhnya Musa yang kelaparan hendak meminta makanan. Cukup baginya, seandainya dia meminta jamuan kepada orang yang dia telah diberikannya jasa. Cukup baginya, sekiranya dia mengambil imbalan atas kebaikannya.
Tetapi Musa mengajarkan pada kita tiga hal penting dalam doanya. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak disimpuhi kedermawananNya, ditadah karuniaNya, dan diharapi balasanNya. Mengharap kepada makhluq hanyalah kekecewaan. Meminta kepada makhluq hanyalah kehinaan. Bertimpuh pada makhluq hanyalah kenistaan.
Apapun hajat kita, kecil maupun besar, ringan maupun berat, remeh maupun penting; hanya Allah tempat mengharap, mengadu, dan memohon pertolongan.
Pelajaran kedua dari Musa adalah adab. Bertatakrama pada Allah, pun juga di dalam doa, adalah hal yang seyogyanya kita utamakan. Para ‘ulama menyepakati tersyariatkannya berdoa pada Allah dengan susunan kalimat perintah, sebagaimana banyak tersebut dalam Al Quran maupun Sunnah. Ia benar dan dibolehkan. Tetapi contoh dari beberapa Nabi dalam Al Quran menunjukkan ada yang lebih tinggi dari soal boleh atau tak boleh. Ialah soal patut tak patut. Ialah soal indah tak indah. Ialah soal adab.
Maka demikian pulalah Musa, ‘Alaihis Salam. Dia tidak mengatakan, “Ya Allah berikan.. Ya Allah turunkan.. Ya Allah sediakan..”. Dia merundukkan diri dan berlirih hati, “Duhai Rabbi; Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku; sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan.”
Yang ketiga, bahwa Allah dengan ilmuNya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik bagi diri ini daripada pribadi kita sendiri. Musa menunjukkan bahwa berdoa bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha Tahu. Berdoa adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia ridhai semua yang Dia limpahkan, Dia ambil, maupun Dia simpan untuk kita.
Maka Musa tidak mengatakan, “Ya Allah berikan padaku makanan”. Dia pasrahkan karunia yang dimintanya pada ilmu Allah yang Maha Mulia. Dia percayakan anugrah yang dimohonnya pada pengetahuan Allah yang Maha Dermawan. Diapun mengatakan, “Rabbi, sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan.”
***
Gadis itu berjingkat dalam langkah malu-malu. Dia tutupkan pula ujung lengan baju ke wajah sebab sangat tersipu. Musa masih di sana, duduk bersahaja. Tepat ketika bayangan berkerudung itu menyusup ke matanya, lelaki gagah ini menundukkan pandangan.
“..Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami..” (QS Al Qashash [28]: 25)
Allah yang merajai alam semesta memiliki jalan tak terhingga untuk memberikan karuniaNya kepada hamba. Baik untuk yang meminta maupun diam saja, yang menghiba maupun bermasam muka, yang yakin maupun tak percaya; limpahan rahmatNya tiada dapat dihalangi. Allah yang menguasai segenap makhluq memiliki cara tak terbatas untuk menghadirkan penyelesaian bagi masalah hambaNya. Allah yang menggenggam seluruh wujud, mudah bagiNya memilihkan sarana terbaik untuk menjawab pinta dan menghadirkan karunia.
Maka jangan pernah mengharap balasan itu datang dari orang yang pada kitalah budinya terhutang.
Tapi dalam kisah ini, Allah pilihkan jawaban doa dan balasan kebaikan melalui orang yang padanya Musa telah menghulurkan bantuan. Bukan sebab tiadanya jalan lain, melainkan karena Allah memang hendak menghubungkan Musa dengan mata air kebaikan yang telah disiapkanNya bagi tugas besarnya kelak. Sebuah keluarga terpilih, yang akan menjadi tempatnya mendewasa dan jadi titik tolak kenabian dan kerasulannya.
Untuk kita insyafi agar diri hanya menggantungkan asa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bahwa tak selalu Dia membalas kebaikan melalui orang yang menerima pertolongan kita. Hanya, mungkin saja itu terjadi. Sebab ada kebaikan yang Allah persiapkan di balik itu, berlipat-lipat, bergulung-gulung. Seperti yang dialami Musa.
“Berjalanlah di belakangku”, sahut Musa, “Dan berilah isyarat terhadap arah yang kita tuju.” Kita tahu, nanti Musa akan dijuluki sebagai ‘Yang Tepercaya’ karena ucapan ini. Sungguh memang, betapa tepercaya lelaki muda yang tetap menjaga pandangannya, pada gadis asing yang jelita, yang mendatanginya untuk kemudian berjalan hanya berdua.
Maka hari itu berubahlah hidup Musa. Sang pelarian dari Mesir menemukan tambatan hidup. Di rumah seorang bapak tua dari negeri Madyan, dia dijamu makan, dilingkupi perlindungan, diberi tempat tinggal, ditawari pekerjaan, kemudian nantinya dinikahkan, dan akhirnya diberi tugas kenabian.
Musa meminta makanan dengan tatakrama yang baik. Yaitu, dia pasrahkan kebaikan apapun yang hendak diberikan Allah padanya ke dalam cakupan ilmuNya. Musa meyakini bahwa apapun yang akan dikaruniakan Allah padanya adalah lebih baik dari semua dugaan dalam permohonannya. Maka Allah memberinya kelimpahan tak terbayangkan.
Demikianlah Allah, Rabb yang Maha Pemurah. Bahkan apa yang kita tak pernah memintanya, Dia tak pernah alpa memberikannya. Maka pada tiap doa, sesungguhnya kita diharap bersiap untuk menerima yang lebih baik, lebih banyak, dan lebih indah. Di dunia maupun akhirat. Sebab hanya di tanganNyalah segala kebaikan. Sebab Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
***
“Aku tak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan”, demikian ‘Umar ibn Al Khaththab pernah berkata. “Sebab setiap kali Allah mengilhamkan hambaNya untuk berdoa, maka Dia sedang berkehendak untuk memberi karunia.”
“Yang aku khawatirkan adalah”, lanjut ‘Umar, “Jika aku tidak berdoa.”
Takkan terasa manisnya kehambaan, hingga kita merasa bahwa bermesra pada Allah dalam doa itulah yang lebih penting dari pengabulannya. Takkan terasa lezatnya ketaatan, hingga kita lebih mencintai Dzat yang mengijabah permintaan kita, dibanding wujud dari pengabulan itu.
Inilah lapis-lapis keberkahan.
Seperti Musa, di lapis-lapis keberkahan kita berlatih untuk meyakini bahwa segala kebaikan ada dalam genggaman Allah. Di lapis-lapis keberkahann, kita juga belajar bahwa ilmu Allah tentang kebaikan yang kita perlukan adalah pengetahuanNya yang sempurna, jauh melampaui kedegilan akal dan kesempitan wawasan kita. Maka di antara jalan berkah adalah, rasa percaya yang diwujudkan dalam tatakrama.
Di lapis-lapis keberkahan, kita mengeja iman dan adab itu dalam doa-doa. Dan inilah firmanNya yang Maha Mulia menutup renungan kita dengan lafal doa yang penuh makna:
“Katakan: duhai Allah, pemilik kerajaan maharaya, Engkau berikan kekuasaan kepada sesiapa yang Kau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan itu dari siapa saja yang Kau kehendaki. Engkau muliakan sesiapa yang Kau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa jua yang Kau kehendaki. Di tanganMulah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Kau benamkan siang ke dalam malam. Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Kau seruakkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau mengenugrahi rizki pada siapapun yang Kau kehendaki tanpa terbatasi.” 
(QS Ali ‘Imran [3]: 26-27)

http://salimafillah.com/

Sabtu, 11 Januari 2014

Suatu Catatan antara NU, Persis, Kelompok Lainnya, dan Kebencian Diantara Mereka (Oknum)

Saya bukanlah orang Persis, tapi saya juga bukanlah orang NU. Saya hanyalah orang Islam yang gemar bergaul dan belajar dari NU dan Persis. Jadi ke NU saya bisa masuk, ke Persis juga bisa, dalam artian, saya bisa bergaul dengan mereka dan saya menikmatinya. Saya ada banyak teman yang Persis, dan banyak juga yang NU.

Terkadang saya menemukan orang-orang yang mengaku NU atau kelompok lain yang sangat benci terhadap Persis, alasannya ada yang bilang ajarannya aneh lah, kelakuan jamaahnya ini lah, itu lah…

Pertama, mengenai ajaran. Jangan meng-klaim ajaran lain aneh bila kita tidak ada argumen. Kalaupun ada argument, argument kita tidak selalu benar. Dalam konteks ke-Indonesia-an, ada MUI, yang terdiri dari kumpulan ulama yang sangat kompeten. Apakah MUI, sudah men-fatwa-kan sesat?

Bila ada kelompok yang pemahaman agama Islam nya berbeda dengan kita, jangan langsung dibenci, bersikaplah arif dan bijaksana. Teliti dulu dengan seksama, baca artikel, buku, dan atau ngobrol-ngobrol langsung dengan kelompok yang “berbeda” tersebut bila diperlukan. Jangan pengetahuan masih sedikit mengenai kelompok “berbeda” tersebut, sudah berlagak pakar dan dengan angkuhnya menghina cara beribadah mereka yang agak berbeda dengan kita. (Dalam konteks nyata, ada orang yang melecehkan bahkan menghina orang yang shalatnya dilipat celananya hingga diatas mata kaki, dan tangannya bersedekap diatas dada, padahal mereka melakukan itu atas dasar dalil...ada haditsnya, jelas dan terang...sedangkan orang yang menghina, mana dalilnya? Hanya emosional belaka...Ya minimal bisa dong saling menghargai, yo mau dilipet celananya di atas mata kaki ya monggo, kalo enggak juga ya yowes lah...mau bersedekap di atas dada, di atas perut, atau di pinggang, yowes lah...yang SALAH itu yang ENGGAK SHALAT)

Pemahaman mengenai Islam bukanlah monopoli sebuah kelompok. Jadi jangan sampai ada kelompok yang merasa kelompoknya paling benar tanpa didasari dalil yang kuat, dan dengan seenak jidat melecehkan kelompok lain, atau bahkan mengklaim mereka akan masuk neraka. Naudzubillah.

Kedua, mengenai kelakukan jamaahnya. Ada seseorang yang sangat membenci Persis karena kelakuan orang-orangnya (katanya) begini dan begitu....HELOOOO...jangan suka memukul rata bos, kalo kata bahasa Sunda mah, “tong di sakompet daun keun”...Siapa yang bisa menjamin tidak ada oknum yang buruk di jamaah Nu?  Siapa yang bisa menjamin tidak ada oknum yang buruk di jamaah Muhammadiyah? Siapa yang bisa menjamin? Siapa?

Kita tidak bisa memungkiri dan kita tidak akan bisa menjamin, di jaman sekarang, ada sebuah ormas atau kelompok yang semua anggota nya bebas dari dosa dan kesalahan. So, jangan menerapkan standar ganda dalam menilai. Misalnya, ke oknum Persis lidahnya sangat tajam, tapi ke oknum NU seolah tak terlihat.

So, marilah saling menghargai, dalam damai...
Peace ah